Minggu, 15 Mei 2011

SEJARAH PESANTREN TEMBORO

TEMBORO, “KAMPUNG” MADINAH

Sampai saat ini mayoritas (seharusnya memakai kata “seluruh”) partai politik dan ormas Islam hanya mengumbar konsep dan janji tentang “apa” dan “bagaimana” sebuah konsep tatanan masyarakat yang berlandaskan syari’at Islam, atau yang lebih populer dengan sebutan “negara madinah”.

Di sisi lain, sebuah desa yang terletak diantara tiga kota, Madiun, Ngawi dan Magetan tanpa publikasi, tanpa bantuan apapun dari parpol dan ormas. Tanpa harus menunggu dukungan kebijakan pemerintah. Sukses dengan apa yang mereka sebut sebagai kampung sunnah, yaitu sebuah tatanan kampung yang mencoba meniru seperti tatanan Madinah ketika masa Nabi hidup.


Temboro, begitulah nama desa ini, meskipun berada di bumi Indonesia, ketika anda menginjakkan kaki pertama kali di desa ini yang terpancar adalah suasana padang pasir, begitu komentar orang kolot. Begitu memasuki gapura desa, terpampang jelas tulisan “Kawasan berbusana muslim”.

Dalam hal berpakaian penduduk Temboro memang kompak, para lelaki memakai gamis, dengan satu alasan, karena mereka ingin meniru idola mereka Sang Nabi Besar Muhammad. Apa itu salah?, lalu bagaimana dengan penggemar celana jeans, padahal celana itu aslinya adalah celana pekerja tambang.

Para wanita berjubah hitam panjang, di antaranya ada yang memakai purdah, cadar dan hanya sekedar mengenakan jilbab. Siapa yang mereka tiru?, tentu saja para ummahatul muslim, istri-istri nabi. Mereka tidak memikirkan apa kewarganegaraan Khadijah ataupun ‘Aisyah.

Sama seperti ketika banyak remaja putri yang mengidolakan britney, tidak hanya tidak memperdulikan dari mana asalnya britney, bahkan agamanya britney pun tidak diperdulikan. Karena britney non Islam yang boleh berpakaian aneh, sedang aku muslim, biar tidak kehilangan identitas keislaman dan kebritney-anku, tetap kupakai jilbab, tapi kupakai celana britney, yah siapa tahu ada yang mau ngasih sedekah lewat belakang, he…he…he

Kembali ke Temboro, salah satu yang menakjubkan adalah ketika terdengar suara adzan. Seluruh penduduk akan beruduyun-duyun menuju masjid, ada yang sambil bersiwak, ada yang menenteng pacul, memanggul karung penuh rumput. Lebih kurang 5000 penduduk akan memadati empat masjid yang ada. Ini adalah buah dari peran aktif Pondok Pesantren al-Fattah yang berada disisi utara dan selatan desa.

Dari puluhan Pondok Pesantren yang saya kunjungi, Temboro termasuk pesantren yang bisa membawa angin perubahan pada desa yang ditempatinya. Padahal tidak sedikit pesantren yang bahkan me-najis-kan penduduk sekitarnya. Entah dengan alasan telah terkontaminasi virus atau takut merugi secara financial bila santri jajan di warung sekitar pondok.

Menurut kebanyakan kiai yang berdomisili di Madiun dan Ponorogo, Pondok Temboro sekarang memang sedang kelihatan “nuur”-nya. Sama seperti Pondok Gontor di era kepemimpinan generasi yang pertama (1926-1984), perlu di ketahui belum ada alumni Gontor pasca era tersebut yang menyaingi kesuksesan lulusan pada era awal. Inilah yang oleh Emha Ainun Nadjib digambarkan sebagai, orang yang kebesaran baju sehingga susah berjalan.

Pondok Temboro sendiri saat ini secara de jure memang di jadikan sebagai pusat gerakan Jama’ah Tabligh (JT) di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari metode penyampaian dakwah JT Temboro yang memang lebih “adem”. JT Temboro, begitu sapaan akrab bagi anggota JT yang bermarkas di Temboro, lebih mengedepankan hikmah dan kesabaran dalam berdakwah mengajak orang untuk semakin kaffah dalam Islam.

Tentu ini melawan opini umum yang terbentuk di masyarakat adalah, bahwa orang berjubah/bergamis adalah Islam garis keras, tidak mudah bergaul dengan masyarakat umum, bermadzhab takfiri (mudah mengkafirkan orang), sedikit-sedikit haram, dan lain sebagainya. Tidaklah demikian bagi makhluk berjubah Temboro. Bila anda berkunjung kesana, sapaan hangat salam akan menyambut anda.

Saat yang tepat berkunjung adalah hari kamis. Dan sempatkan diri anda untuk mengikuti pengajian selepas maghrib bersama ribuan hadirin. Selepas pengajian, nikmati pengalaman iktikaf di masjid terluas di Karesidenan Madiun. Lalu bangun malam, dan ikutlah menangis bersama hamba-hamba Allah yang tengah menangisi dosa-dosanya.

Inilah tempat wisata religi sesungguhnya dan dijamin tidak akan pudar sebagaimana pudarnya Geger Kalong setelah kedatangan istri muda Aa Gym.

Rutenya pun gampang dicari, jika anda berniat berkunjung. Bila sampai di terminal atau stasiun Madiun. Cukup mengatakan password Temboro semua Taksi dan tukang ojek sudah tahu. Tapi bila ingin ekonomis, anda bisa berganti bus menuju terminal Maospati. Dari sini semua orang juga sudah mengenal Temboro, tarif ojek biasanya cuma Rp.7.000 doang

Bila ada niat, gak usah takut soal jamuan makan. Karena breakfast, lunch dan dinner gratis..tis..tis.. sepuasnya

2 komentar:

  1. Aku ngojek tak wenehi Rp.25.000 seko Glodok

    BalasHapus
  2. Insya allah nanti siang berangkat ke temboro
    Mau ziarah ke makam pak kiai :(

    BalasHapus